Selasa, 13 Maret 2012

Tidak Semua Pengharapan dikabulkan Tuhan


Tidak semua pengharapan pasti dikabulkan, begitu juga dengan niat kejelekan tidak serta merta dikabulkan. Mengapa Tuhan seakan menjaga jarak kepada hamba-Nya, tidak misalnya, mengabulkan semua permintaan hamba-Nya. Tidak sedikit orang yang frustasi dan kelelahan berharap. Sebenarnya apa sih doa itu? Menengadahkan kedua tangan setiap selesai sholatkah? Merayu-rayu Tuhan dengan cara banyak membaca surah-surah tertentu?
Sejarah hidup orang-orang berhasil justru yang saya tahu dari penuturannya, adalah orang-orang yang menyedikitkan doa, justru memperbanyak kerja keras dan sungguh-sungguh. Menurut anggapannya bahwa Tuhan selalu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik jika orang tersebut telah melakukan kerja keras yang nyata. Orang-orang seperti Ahmad Bakri, Yusuf Kala, Dahlan Iskan, Jacob Oetama dan lainnya adalah orang-orang pekerja keras. Sungguh Tuhan selalu mengganjar hamba-Nya itu setelah orang itu dilihat-Nya telah bekerja keras.
Jika kita berpikir bahwa Tuhan sangat mudah mengabulkan permintaan yang baik-baik dari hamba-Nya BERARTI Tuhan juga sangat mudah mengabulkan permintaan yang tidak baik-baik dari hamba-Nya. Penjelasannya begini, terkadang kita pernah marah sambil mengumpat “Samber gle*** luh!”  “Biar matinya ditabr** mobil luh”. Tapi selang beberapa hari kita baru menyesal ngomong begitu, masih untung tidak kejadian. Padahal orang yang kita umpat itu adalah orang-orang yang dekat sama kita. Coba kalau Tuhan selalu mengabulkan semua pengharapan, apa jadinya dunia ini. Artinya kalau Tuhan menyeleksi permintaan hamba-Nya yang “ngaco” berarti Tuhan juga menuyeleksi doa-doa hamba-Nya, mana yang buru-buru yang dikabulkan dan mana yang tidak dikabulkan belakangan.

Selasa, 06 September 2011

Suatu Sore di Tempat Pemancingan Galatama

Sore hari menjelang magrib, dalam perjalanan pulang aku berkesempatan mampir di pemancingan galatama, kata tukang mancing pemancingan galatama ini adalah pemancingan esklusif karena dua hal: Pertama, si pemancing membayar mahal dibanding tempat pemancingan regular, kedua hasil pancingannya tidak boleh dibawa pulang. Cukup aneh memang kedengarannya. Tapi memang yang datang ke sini adalah pemancing-pemancing yang memang rata-rata dari orang-orang kaya, terlihat dari deretan mobil-mobil yang diparkirnya.
Selain itu pemancing galatama ini memang termasuk pemancang "manja", mengapa? Karena dari mulai memberi umpan dipancing dan menangkan serta menimbang dikerjakan oleh pembantu yang memang dibayar khusus untuk itu.
Setiap kali pemancing mendapatkan yang agak besar, ikan tersebut ditimbang oleh petugas dan diumumkan seberapa berat ikan yang diperolehnya. Dengar-denger menurut penuturan orang disebelah saya, bahwa sistem pemancingan ikan digalatama ini sistem taruhan, di pemilik kolam hanya mendapat jasa dari uang taruhan yang dikumpulkan. Kisaran taruhan dari ratusan hingga jutaan rupiah. 
Saya tidak mengerti, si pemancing menangguk kesenangan dari taruhan apa dari efek memancingnya. Kalau begini makna mancing yang sebenarnya sudah bergeser dari yang cuma menjalani hobi menjadi pasar taruhan. Tapi tidak tahulah, mungkin galatami di tempat lainya tidak seperti ini. Anda punya hobi memancing? Saran saya mancinglah itu sebagai hobi bukan sebagai ajang taruhan! Selamat memancing.

Kamis, 01 September 2011

Seorang ibu yang kurang waras dengan seorang anak balita

Kalau kita berkeliling di jalan banyak ditemui hal yang membuat merenung: Pertama, ada seorang perempuan kurang waras yang selalu ditemani anak kecilnya (kurang lebih 4 tahunan) kemanapun dia pergi, kalau perempuan itu sendiri mungkin aku tidak heran, tetapi bagaimana dengan putri kecilnya itu? Kok bisa ya, seharian berjalan kaki pergi tanpa arah dan tujuan. Bagaimana dengan makannya? Bagaimana dengan rasa capainya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang tentunya sangat sulit dijawab karena keberadaan orang tua yang hilang ingatan. Tapi satu yang mungkin, yaitu naluri seorang ibu. Aku yakin ketika Tuhan mengambil akal seseorang tapi tidak dengan naluri seorang ibu. Jelasnya, segila-gilanya orang orang tua, masih akan ada naluri orang tua ketika melihat anaknya sedang lapar. Menurut istriku, saat ketemu ibu itu di pasar kerap kali dimintakan makanan. Tragis memang, seorang anak yang sedang lucu-lucunya harus bergelut di jalanan bersama seorang ibu yang kurang waras? Siapa yang salah?

Minggu, 07 Agustus 2011

SURAT PERJANJIAN

Waktu anakku Billy meminta mainan PSV (tepatnya PSV palsu tentunya) aku tidak tanggapi serius, selain harganya yang cukup untuk membeli beras 25 liter beras, aku merasa permainan itu bisa mengganggunya bermain dan belajar. Tapi kalau aku perhatikan "player" ini lebih sederhana dan permainannya pun cukup aman tidak seperti PS yang menurutku permainan "dewasa". Apalagi saat libur puasa seperti ini, saat dia tidak lagi ngemil dan mengundang teman-temannya bermain di rumah karena alasan puasa. Akhirnya aku luluh dan menawarkan permainan itu dengan satu perjanjian.
Aku menjanjikan membelikan permainan itu dengan menghitung mundur seminggu kebelakang, artinya ada waktu 7 hari untuk melihat keseriusannya memegang janjinya. Waktu aku tawarkan ke anakku perjanjian itu ia merespon dengan menuliskan sendirinya perjanjiannya begini kira-kira bunyinya : "Billy janji tidak akan nakalin adik dan berhenti bermain kalau saat belajar dan sholat".
Diktum perjanjiannya memang seperti yang aku minta, soalnya belakangan dia suka jahilin adiknya dan muncul ego seorang kakak pada adiknya, ya rasa cemburu begitulah. Terkadang sang kakak tidak senang diganggu atau dipinjam mainan oleh adiknya, ujung-ujungnya adiknya dinakalin. Aku berpikir moment ini pasti terjadi buat anak-anak seusia dia yang selama ini "jatah" kasih sayang orang tuanya sedikit direduksi oleh adiknya.
Perjanjian yang ditulis diselembar kertas kemudian ditempel di dekat meja belajarnya, aku senantiasa mengingatkannya saat ia mulai berulah terhadap adiknya, syukurlah dia selalu menahan diri mengingat perjanjian itu. Aku melihatnya terkadang jadi senyum sekaligus bangga saat ia berbaik-baik sama adiknya. AKu melihat banyak pelajaran yang bisa diambil dari proses ini. Pertama, anak kecil, berapapun usianya, jika dilatih menjalankan komitmen perjanjian ternyata anak tersebut berusaha akan bertanggung jawab menjalankannya. Kedua, ternyata dengan cara berdialog kita memecahkan persoalan yang diinginkan anak. Mungkin sebagian anak tertentu, saat meminta sesuatu inginnya saat itu juga minta dipenuhi, tidak bisa diulur-ulur. Mengapa demikian? Mungkin sebagai orang tua sering berjanji tapi pada saatnya tidak dipenuhi, jadi muncul rasa ketidakpercayaan pada omongan orang tuanya. Kelihatannya sepele, tapi sesungguhnya ini adalah bibit negatif yang menjadi ganjalan relasi orang tuan-anak. Ketiga, ketika ada perjanjian tertulis orang tua lebih mudah menagih janji anak berdasarkan komitmen yang dibuatnya.

Jumat, 24 Juni 2011

Sepenggal Cerita Wali Kelas


Ini cerita sepenggal jadi wali kelas, sabtu besok bersama siswa kelasku berencana berkunjung ke Istana Negara dan Planetarium, semuanya sudah kuurus sendiri dari mulai pemesanan mobil, tiket dan akomodasinya. Namun karena keterbatasan ekonomi ada beberapa anakku yang tidak ikut. Di pikir-pikir kalau alasannya ekonomi, sampai diminta berkali-kalipun tetap saja tidak bisa ikut. Aku sebenarnya mengharapkan mereka ikut semua.
Aku tanya satu-satu, mengapa tidak ikut bergabung. Jawabannya hampir sama karena alasan ekonomi. Akhirnya aku ambil keputusan, mereka semua harus ikut, dengan hanya membayar berapa saja yang mereka mampu. Dan saat aku komfirmasi kepada siswa lainnya, mereka dengan ikhlas menerimanya. Perasaanku jadi lega....

Rabu, 22 Juni 2011

Tilang Jilid 2

Jauh-jauh hari ada temen yang bilang, sekarang lagi musim razia "Hati-hati banyak razia, makanya siapin aza lembar 20 ribuan di lepitan STNK" nanti kalau ada razia pasti cepet lolos deh".
Bener juga kemarin tanggal 21 Juni 2011, aku dicegat razia, "Selamat siang, mana STNK dan SIM anda!" kata seorang petugas. Aku berikan buru-buru STNK nya, "Ini apaan?" serunya. "Udah damai aja pak, saya mau buru-buru" kataku. Jawabnya, "Aduh gimana ya, tapi terima kasih ya?". Aku buru-buru ngeloyor pergi. he he he
Lho kemana integritas itu?
Bener juga kata seorang teman "Kalau bisa damai lebih baik damai di tempat aja, daripada ngurus sidang jadi makan hati, lagian emang itu juga yang para petugas harapkan kok?" he he he

Rabu, 15 Juni 2011

Berikhtiar Mencerdaskan anak

Sudah 3 hari ini anakku yang pertama sedang mengikuti ujian kenaikan kelas, sudah 3 malam pula istrik u dengan sabar dan ketegasannya melatih soal-soal materi pelajaran yang diujikan. Dalam kaitan ini saya mencoba melakukan ikhtiar sebagai berikut:
Pertama, saya membantu mengetikkan soal-soal ulangan harian dan mid semesternya nanti anakku diminta mengisi soal-soal yang ada didampingi ibunya. Kedua¸ menciptakan suasana yang kundusif diantaranya menyiapkan alat tulis, penghapus, memberlakukan jam malam (artinya dengan alasan apapun tidak boleh keluar rumah pada malam hari) dan yang lebih penting mengkondisikan suasana hatinya untuk selalu gembira dan tanpa tekanan.
Kami berharap anakku mendapatkan nilai yang wajar dan kami berupaya mendampinginya saat-saat seperti ini. Kami sebagai orang tua selalu punya keyakinan bahwa “Tidak ada sesuatu datang secara tiba-tiba, tanpa usaha”, karenanya kami berikhtiar semampu yang kami bisa. Kalaupun nanti nilainya tidak memuaskan itu soal lain, dalam hati kami pencapaian nilai bukan segala-galanya, tapi yang lebih penting adalah menyiapkan sarana dan kondisi agar tumbuh kesadaran anak untuk bisa belajar.
Untuk seorang siswa kelas 1 sekolah dasar, 10 mata pelajaran yang diujikan adalah lebih dari cukup, rasanya kami saja sebagai orang tua susah mengajarkan kesepuluh materi itu.
Sebagai perbandingan di kelas satu madrasah, setahu saya jumlah pelajarannya bisa dua kali lipat, pelajaran umum ditambah pelajaran-pelajaran agama. Pernahkah dipertimbangkan aspek psikologis dan sosiologis anak ketika baru seusia itu diperkenalkan pelajaran yang sangat banyak? Pada usia belia, anak mestinya dipernakalkan pada pelajaran-pelajaran dasar seperti membaca dan berhitung serta sedikit mengasah logika. Tapi entahlah, mungkin buat mereka “Lebih baik tahu banyak meski sedikit-sedikit daripada tahu secara mendalam pada pelajaran yang sedikit”.

Minggu, 12 Juni 2011

Lama-lama aku bertambah tua.

Suatu kali aku meraba kulit tanganku, secara iseng aku perhatikan ternyata kulit tanganku mulai mengendur, kalau aku pencet pakai jari ternyata kulit-kulitku menuju keriput. Aku ingat-ingat februari kemarin umurku genap 40 tahun, “Aku sudah mulai tua sekarang”. Pada suatu kesempatan kepada seorang teman sekolah SMP ku aku berujar “Nif, lihat kulit tangan-tangan kita sekarang mulai kendor dan wajah-wajah kita sudah berubah lebih tua” (padahal wajahku sebelum 40 pun sudah kelihatan lebih tua).
Saat mencukur kumis (sebenarnya tidak pas disebut kumis, karena Cuma tumbuh beberapa helai) aku melihat wajahku, lama-lama aku sadar kalau sebenarnya wajahku tuh jelek, apalagi sudah berumur 40 an. Terkadang aku juga bingung, kok bisa ya wajah jelek begini bisa punya istri dan menikah. Aku mulai melihat tanda-tanda keriput di wajahku, dipinggir hidung atau di atas alis, dari sisi manapun wajahku tidak menarik.
Terkadang lucu juga memang, aku masih merasa berumur 20 an atau 30 an, tanpa melihat bahwa sesungguhnya tubuh dan wajahku sudah berubah, dari yang tadinya jelek menjadi bertambah jelek.
Makanya aku bingung ketika orang rumah cemburu kepadaku, “Siapa juga yang masih mau dengan pria berumur 40 an dan wajah yang jelek?”

Terapi rekam, untuk anakku.




Suatu kali anakku menangis (karena ngantuk) yang sulit didiamkan, sudah berbagai cara ditempuh untuk mendiamkan. Akhirnya cara terakhir aku tempuh, biasanya aku mengambil kamera perekam sebagaimana aku lakukan dulu pada kakaknya. Aku rekam gaya dan suaranya menangis, kemudian aku replay dan diperdengarkan kepadanya kemudian. Biasanya dia akan terdiam karena merasa aneh ada suara yang mirip suaranya.
Meski cara ini tidak selalu sukses, tapi sejenak bisa membuatnya diam. Terkadang aku mencari cara-cara yang tidak lazim untuk membuat anak beralih perhatiannya. Dan cara itu bisa menghentikan tangisnya tanpa harus menyakiti anak.
Untuk kakaknya lain lagi. Aku selalu membuat surat perjanjian atau rekaman perjanjian untuk memberi pelajaran bagaimana berkomitmen tentang perjanjian. Sering, kita, orang tua ngomelin sambil meminta janji anak, “Kak mandi nanti, kalau tidak mandi nanti tidak dibeliin es krim”, atau “Kalau tidak belajar, nanti tidak usah jalan-jalan naik motor”. Itu janji dimulut tanpa tertulis, coba lihat hasilnya pasti mengecewakan, “Janji tinggal janji” kata orang.
Seringkali aku mengajak anakku ke tempat kerja (percetakan), batu beberapa menit dia sudah mengajak pulang biasanya kita bilang “Tadi tidak usah ikut kalau minta pulang” dan akhirnya kita mengalah mengantarkannya pulang meski pekerjaan belum selesai. Suatu kali saat dia minta ikut aku siapkan rekaman perjanjian, maksudnya aku menyiapkan MP3 player untuk merekam suara janjinya, “Kakak boleh ikut ayah tapi tidak boleh buru-buru minta pulang, sekarang ayo janji sama ayah pake suara nanti ayam rekam”. Hasilnya sangat efektif, setiap dia mulai kelihatan tidak betah aku mengingatkannya “Ingat janji kamu, nanti ayah putar rekamannya ya?”, biasanya dia mengerti dan ikut menemaniku merampungkan pekerjaan.
Selanjutnya cara seperti ini sering aku gunakan, setiap kali diminta sesuatu dia kurang merespon aku buru-buru ambil pulpen dan menuliskan perjanjian, biasanya sebelum kertas itu digantung di tembok kamarnya, ia sudah kooperatif mau melaksanakan tugasnya. Ternyata anakpun memiliki sikap kesatria dan memiliki komitmen memegang teguh sebuah perjanjian. Asal tentu saja, kita sebagai orang tua benar-benar berkomitmen pula melaksanakan perjanjian yang kita buat. Jadi jangan mengharapkan anak mau melaksanakan perjanjiannya jika kita sendiri sering ingkar janji, betatapun kecil dan sepelenya janji itu.

Jumat, 10 Juni 2011

Menikmati jadi orang tua




Sudah 2 hari ini anakku yang berumur 15 bulan lagi cengeng, semalam beberapa kali terbangun dan menangis, entah apa sebabnya, padahal suhu badannya normal, hidungnya tidak mampet, juga tidak kehausan. Secara bergiliran aku dan istriku mencoba menarik perhatiannya supaya tangisnya berhenti, tapi tidak buru-buru berhenti. Istriku melakukan sholat dan aku membaca bacaan suci yang aku hafal, ada kemajuan meski sesekali nangisnya kambuh lagi.
Tapi betatapun anakku rewel aku berusaha sekuat tenaga untuk menjaga emosi, meski sesekali ngomel juga. Pada orang tua yang memiliki batita memang sering sering mengalami sindrom baby blues, situasi dimana terjadi konflik emosi saat anak rewel dan menuntut perhatian lebih orang tuanya.
Foto di atas sebenarnya tidak ada hubungan dengan cerita di sini, tapi saat tulisan ini dibuat, anakku yang pertama sedang ketawa-ketiwi saat sedang asyik bermain komputer dan anakku yang kedua tertarik dengan suara musik maher zain yang membuatnya terkantuk-kantuk dan sekarang sedang tidur pulas di sebelahku. Terkadang memang sepintas kita menjadi sangat emosional ketika anak rewel dan menangis. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa dibanding dengan rewelnya anak-anak kita jauh jauh lebih banyaknya tidak rewelnya. Dalam hitungan saya serewel-rewelnya anak menangisnya tidak akan lebih dari 20 menit, selebihnya adalah minta gendong biasa.
Jadi nikmatilah menjadi orang tua!

Kala matahari bersinar, kala itu pula kehidupan baru menyongsong



Seberapapun perasaan hati meruyak, yang paling enak dilakukan tetap berpikir optimis dan berusaha sekuat tenaga berfikir positif. Yakinilah bahwa apa yang akan dan telah terjadi merupakan sentuhan dari Yang Maha Kuasa, dari kita bangun tidur sampai kita tidur lagi tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Sebagai manusia kita hanya aktor yang melakoni sebuah grand design Yang Maha Kuasa. Kita hanya dari bagian titik yang mewarnai kehidupan. Bersyukurlah ketika hidup kita penuh warna, penuh dinamika, berbagai perasaaan datang silih berganti, tidak monoton, sebagai tanda ada napas dalam kehidupan kita.

Selama matahari pagi muncul di ufuk timur, selama itu pula ada kehidupan baru setiap harinya. Kehidupan yang harus kita isi dengan rutinitas dan corak perilaku yang memberi nilai tambah agar diri menjadi lebih dewasa. Bukankah sebilah keris akan bertambah nilainya jika semakin sering diasah dan ditempa?

Senin, 30 Mei 2011

Mencari Telur Ayam




Menyiasati waktu menjelang tidur menemani kedua anakku, aku mencari ide permainan. Timbullah ide permainan yang sesungguhnya sering aku mainkan dulu sewaktu kecil. Nama permainannya "Mencari Telur" mungkin yang dimaksud adalah telur bebek, alasannya orang di kampungku dulu banyak orang berternak bebek, termasuk keluargaku. Alat yang digunakan dalam permainan ini adalah selembar selimut dan lampu kamar yang dimatikan.
Aku dan kedua anakku bersembunyi dibawah kuruban selimut, dalam kegelapan anakku yang pertama memberi komando "Cari terlur....cari telur". Larlu kami masing-masing berfantasi mencari telur-telur di tengah kegelapan, ada yang mencari disela-sela betis, di pojok ketiak atau di sela-sela kaki. Lalu si kakak dan adiknya masing-masing mencari telur, mengumpulkan dan menghitungnya. Buat anakku permainan ini sangat menyenangkan, sebab dengan fantasinya mereka mengangaap dirinya seperti peternak telur yang memiliki bebek-bebek nakal, yang seenaknya bertelur di sembarang tempat.
Begitulah moment bermain dengan anakku, demi memuaskan fantasi bermainnya, aku sering berperan seperti anak seusia mereka. Buat anak seusia mereka, mereka butuh hanya satu hal: seorang teman yang enak diajak bermain!
Kata anakku yang pertama aku adalah penemu beberapa mainan baru, seperti mainan glinting-glinting, bi-bop, di luar ada apa?, pohon jatuh dan tentu saja bermain mencari telur. He he he ada-ada saja anakku ini.

Senin, 16 Mei 2011

TUHAN HANYA MENGHUKUM ORANG YANG SALAH



Suatu saat saya merenung tentang makhluk Tuhan yang bernama “nyamuk”. Betapa hebatnya nyamuk ini sampai manusia harus berpikir keras menemukan obat untuk mengusir dan membunuh nyamuk. Banyak penyakit yang menakutkan yang disebabkan nyamuk. Tapi pernahkan berpikir bahwa Tuhan menjadikan nyamuk sebenarnya untuk “memaksa” manusia untuk hidup bersih dan bertanggung jawab. Karena gigitan nyamuk berpindah dari satu kulit manusia ke kulit manusia lainnya. Namun, ada satu hal yang menurut saya “karena nyamuk jua Tuhan hanya menghukum orang salah”. Buktinya pada penyakit HIV – AIDS, suatu penyakit yang disebabkan (diantaranya) karena perilaku menyimpang homoseksual. Di saat penyakit ini bisa ditularkan oleh jarum suntik (biasanya sesama pengguna narkoba), karena jarum itu habis dipakai pada penderita HIV AIDS. Tetapi ajaibnya, nyamuk yang habis menghisap darah penderita HIV tidak dapat menularkan penyakita tersebut pada orang yang akan digigitnya. Tuhan hanya menghukum orang yang berperilaku menyimpang!

TUHAN SUDAH MENYIAPKAN SEGALANYA.



Air susu ibu (ASI), betapapun sulitnya ekonomi seseorang, ketika anak barunya lahir, sesaat itu pula sudah tersedia makanan terbaik ewat susu ibunya. Dalam air susu itu terdapat seluruh kriteria makanan bergizi yang dibutuhkan anak.

OBAT BIUS. Awalnya saya tidak mengira kalau obat bius itu dihasilkan dari tanaman opium, saya pikir obat bius itu dihasilkan dari proses kimiawi, ternyata Tuhan menciptakan aneka tanaman salah satunya tanaman opium, padahal saya yakin tanaman tersebut pasti ditanam di tanah dan diberi air dan pupuk yang sama dengan tanamn lainnya. Tapi mengapa, dari air dan tanah yang sama, kok bisa menghasilkan buah yang dapat membius seseorang. Hal ini semakin meneguhkan pernyataan “Setiap penyakit pasti ada obatnya”, obat biuslah yang dapat menyelematkan orang-orang dari rasa sakit saat mengalami operasi.

SANDAL KARET. Kok sandal karet? Iya, suatu sore saat saya tidur-tiduran di saung, saya memerhatikan sandal jepit yang dikenakan anak saya. Rasanya kok nyaman dipakai buat berlari. Pikir saya karena terbuat dari karet. Ya karet. Saya merenung, Tuhan hebat banget ya? Menyediakan getah dari pohon karet untuk dimanfaatkan manusia. Untuk kenyamanan manusia. Saya bisa bayangkan jika sendal anak saya terbuat dari bahan sekeras batu. Atau celana kolor anak saya tidak terbuat dari karet, setiap saat pasti kedodoran terus. Saya yakin, sebenarnya Tuhan amat sayang sama hamba-Nya, setiap alam seisinya benar-benar untuk bisa dimanfaatkan buat hamba-Nya.

SUMBER AIR. Saat saya mengunjungi proyek pengeboran minyak di daerah wates-tambun babelan, saya terkesima dengan cara kerja orang-orang yang bekerja di perminyakan. Kok bisa ya batu sekeras apapun bisa dihunjam dengan mata bor, dalamnya mencapai +/- 5000 meter. Saya terpikir, Tuhan ini Maha Hebat dengan meletakkan sumber minyak berada di bawah sumber air. Karena minyak merupakan kebutuhan sekundar dibanding kebutuhan air. Di sinilah hebatnya kekuasaan Allah dengan meletakkan sumber yang paling dibutuhkan manusia “hanya” beberapa meter dari permukaan bumi. Artinya ketika manusia menggali beberapa meter saja, niscaya kebutuhan air sudah bisa dipenuhi. Saya tidak bisa bayangkan seandainya sumber air diletakkan di perut bumi terdalam?

Hukum dunia: Yang Baik Segalanya Tak Gampang Dilakukan.



Menjelang dunia minggu sebelum siswa kelas 9 mengikuti ujian akhir sekolah. Aku sempat bercanda di kelas bahwa dalam 2 minggu ini saya akan bicara terbalik. Maksudnya? Ya saya akan bicara terbalik dari guru-guru lain saat nasehatin siswa. Saya katakan, “Tolong buku-buku tentang ujian nasional JANGAN dibaca” atau “Kalau perlu sering-seringlah keluar malam” atau “Jika ada uang jangan beli buku, main PS aja”. Saya mengatakan itu bukan tanpa maksud.Pertama, hampir setiap guru yang masuk kelas selalu nasehatin yang baik-baik, jangan ini, jangan itu! Tetapi kenyataannya tetap saja siswa melakukan kebalikan dari apa yang dinasehatin. Coba perhatikan ketika siswa kebut-kebutan di jalan pasti orang tuanya pernah bilang “Nak, naik motor jangan ngebut ya?”, ketika siswa nongkrong sama teman-teman malam hari, orang tuanya juga pernah bilang “Bentar lagi mau ujian, jangan keluar malam tidak karuan!”, atau saat pulang sekolah (tau malah bolos sekolah) siswa main PS, pasti orang tuanya juga pernah nasehatin, “Pulang sekolah langsung ke rumah jangan main PS!”. Kenyataannya siswa cenderung melawan arus dari apa yang dinasehatin orang tuanya.
Kembali ke judul di atas, kadang saya berpikir mengapa ya sesuatu yang bermakna baik selalu tidak gampang dikomunikasikan dan komunikannya tidak gampang buru-buru melaksanakannya. Menuyuruh siswa baca buku tidak gampang dipatuhi, menyuruh siswa siswa belajar bersama menjelang ujian tidak dilaksanakan, menyuruh solat, mengaji tidak buru-buru dilaksanakan siswa.
Saat jam pelajaran berakhir, siswa diharapkan sholat zuhur berjamaah, kalau tidak guru piketnya bawa pentungan siswa masih duduk-duduk ngobrol. Coba siswa disuruh melakukan hal sebaliknya, spontan siswa melakukannya “Sepulang sekolah siswa jangan sholat tapi langsung main PS ya?” Menurutku disinilah letak keadilan Tuhan, disinilah kompetisi hidup dimulai, kalau semua orang gampang dinasehatin dan segera melaksanakan nasehat itu menurutku malah warna-warni hidupnya malah tidak kelihatan. (bersambung kapan-kapan)

Hal yang aku takuti.



Satu hal yang paling aku takuti jika aku punya mobil adalah : Ketika bepergian, istriku naik di jok tengah. Aku nyetir sendirian di depan. (Makanya sampai sekarang belum punya mobil juga).

Sabtu, 14 Mei 2011

Jangan mengajarkan semua yang engkau ketahui, tapi ketahuilah semua yang engkau ajarkan!




Saya sering bergurau di depan siswa saat berada di kelas. “Nanti di tengah-tengah saya mengajar, terus ada kata-kata dari saya yang berisi nasehat tolong segera diinterupsi ya?” Jika ditanya siswa alasannya, saya mengatakan “Dulu saya pernah menjadi siswa seperti kamu, pada waktu itu saya sebel banget dari jam pertama sampai bel pulang semua guru kerjaannya nasehatin melulu, padahal dari sederet nasehat mereka (saya tahu) ada nasehat yang guru sendiri tidak menjalaninya. Terus apa hubungannya dengan interupsi tadi?
Dalam banyak hal saya tidak terlalu baik untuk ukuran seorang guru, karena saya menahan diri untuk tidak mengumbar nasehat kepada murid-murid saya. Saya memilih-memilih nasehat yang kira-kira saya sendiri menjalaninya, mengingat hanya sedikit yang saya jalanin, maka hanya sedikit yang saya nasehatin.
Tapi kalau dipikir-pikir lucu juga emang. Kenapa ya secara alamiah setiap orang punya naluri untuk “gatel” memberi nasehat.. Dan kadang-kadang materi nasehatnya seperti iklan obat yang diulang-ulang, itu lagi-itu lagi. Basi.
Terus kalau tidak memberi nasehat, mau ngapain lagi di kelas? Nah itu saya juga bingung. Padahal saya tidak terlalu percaya diri mengampu mata pelajaran yang saya ajarkan, buktinya nilai-nilai siswa kelas 9 yang saya ajarkan mayoritas nilainya di bawah nilai kelulusan. He he he. Saya saya juga bingung, setiap tahun selalu begitu, bahkan belakangan beberapa siswa harus mengulang UN mata pelajaran yang saya ampu. Padahal saat saya lihat soalnya, mayoritas soalnya sudah pernah saya ajarkan di kelas dan saat pengayaan materi.
Nah, kalo begitu berarti saya butuh nasehat agar saya bisa pintar dalam mengajar, siapa ya yang berminat? Mungkin anda?

Kemana “Terima kasih itu”.



Suatu kali saat mengunjungi kantor Pos menyelesaikan kewajiban bulanan, aku mendapatkan pelajaran ketika pegawai pak pos menyindir pengguna jasa jas yang habis menerima kiriman uang (aku melihat pak pos menghitung sekitar 5 jutaan sekian), dengan perkataan “Terima kasih pak…..”. Rasanya memang logis juga, ketika orang itu sudah dibantu mencairkan uang kiriman rasanya sangat elok ketika harus mengucapkan kata terima kasih kepada orang yang membantu kita.
Tapi benarkah kita secara sungguh-sungguh mempraktikkan kebiasaan baik itu? Pernahkah kita mencoba menularkan kebiasaan baik itu untuk anak-anak ideologis dan biologis kita? Rasanya ucapan ringan itu memang belum menjadi pakaian kita sehari-hari. Ketika dibantu anak mengambilkan air minum, ketika siswa kita membantu membelikan makanan, pernahkan kita mengiringinya dengan ucapan terima kasih.
Pendidikan memang berawal dari kebiasaan dan konsistensi. Pendidikan bukan didasarkan konsep ujug-ujug dan indoktrinasi. Penanaman sikap keberagamaan memang membutuhkan konsistenasi dan konsistensi. Pelajaran agama bukan untuk diceramahkan atau ritual perayaan ini itu. Tapi lebih dari itu adalah penanaman kebiasaan dan keteladanan.

Minggu, 08 Mei 2011

Workshop LA LIGHT INDIE MOVIE





Untuk ketiga kalinya, pada 29 April kemarin, aku berkesempatan mengikuti wrkshop LA LIGHT INDIE MOVIE yang diadakan di PPHUI Kuningan Jakarta. Dibanding tahun-tahun sebelummnya, tahun ini pesertanya membludak, panitia sampai memberi tambahan kursi ekstra. Seperti yang diungkap panitia, bahka keberhasilan penyelenggaraan kali ini tidak terlepas dari kesempatan dan dukungan yang optimal, sepertinya menjadi kunci mengapa LA LIGHT INDIE MOVIE selalu berhasil memikat para senias muda untuk turut serta mengikuti berbagai program yang ditawarkan. Kesempatan untuk berekspresi merealisasikan ide-idenya, kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan pakar perfilman nasional, serta kesempatan untuk mendapatkan ilmu praktis dalam teknis pembuatan film tersedia di workshop film terbesar di Indonesia ini. Para pembicara yang mengisi program ini adalah terdiri dari Garin Nugroho, Hanung Bramantyo, Tora Sudiro, Laura Basuki, dan German Mintapraja. Pada kesempatan kali ini aku dapat kesempatan berbicara langsung dengan sineas Grain Nugroho dan Hanung Bramantyo, juga sekaligus aku mendapat sertifikat eksklusif dari keduanya (lihat foto). Thanks ya bang.

Sabtu, 07 Mei 2011

HUNTING DI STASIUN KERETA





Mengisi waktu sambil menunggu cetakan, memang terkadang cukup mengasyikkan, lokasi sentra cetakan yang dekat dengan stasiun kereta membuat aku sering berkunjung ke stasiun bekasi. Stasiun bekasi (sebelum saya berani naik motor ke Jakarta) sering saya singgahi sebelem meneruskan perjalanan ke glodok bekasi, aku akrab sekali dengan pedagang-pedagang kaki lima (sebelum dilarang) karena sambil menunggu kedatangan kereta kita bisa baca-baca koran gratis. Malah aku akrab dengan seorang pedagang kaki lima teman sekolahku dulu. Tapi, setelah pedagang kaki lima dilarang berjualan di stasiun, entah kemana perginya para pedagang-pedagang tersebut.
Kali ini dengan membawa perlengkapan huntingku aku membidik objek-objek yang ada di stasiun kereta. Lokomotif kereta dan rangkaiannya tentu saja menjadi golden objek bidikanku,sampai sekarang aku merasa aneh aja dengan teknologi perkeretaapian, secara detil aku memandangi roda-roda besar dan rem blok kereta, aku penasaran dengan cara kerja mesin-mesin tersebut.
Pada hunting kali ini aku tertarik dengan para pekerja yang mengukur balancing rel kereta, mereka bekerja merawat rel kereta demi keselamatan penumpang. setiap meter meereka mengukur rel kereta jika kedua batang rel berjarak saja beberapa centi mereka dengan sigap merapikan susunannya kembali. Saya tidak gaji mereka, namun sesungguhnya para penumpang kereta mesti berterima kasih kepada mereka. Sebab ditangan merekalah kelaikan rel kereta dibenahi.